mesin pencari

Kami menjual Grosir dan Eceran => Buka Hari Seni - Jumat (Tanggal Merah Libur) / Jam 08.00 - 17.00

Gambar Produk

Gambar Produk
sedia hena, golecha, chandni, rani, kajal, eye liner, cetakan hena, aksesoris hena

Sabtu, 23 Maret 2013

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao

Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Kakao

Pada perkebunan kakao rakyat, daun pangkasan tanaman dan kulit buah kakao (cangkang/pod) serta hijauan tanaman pelindung/naungan yaitu gamal (Gliricidia sepium) dan lamtoro (Leucaena leucocephala) dapat dimamfaatkan sebagai pakan ternak kambing. Kulit buah kakao selalu tersedia sepanjang tahun. Sementara itu dengan interval dan cara peamangkasan yang benar diperolehdaun-daun hpangkasan tanamanpelindung. Kandungan gizi kulit buah kakao terutama kandungan protein kasar yaitu 8,5 %.
Beberapa penyakit yang pernah dijumpai menyerang tanaman kakao di Lampung adalah busuk buah (Phytopthora palmivora Bult.), penyakit antraknosa (Colletotricum gleosporoides Penz. Sacc.), vascular streak dieback (Oncobasidium theobromae Talbot & Keane), jamur upas (Corticium salmonicolor), dan penyakit jamur akar (Ganoderma pseudoferreum Walker.). Semua jenis penyakit ini mampu menggagalkan panen jika tidak dikendalikan dengan tepat.
Dari segi agrobisnis, usaha tani kakao berpeluang cukup besar untuk dikembangkan. Kini, daya serap industri kakao domestik baru 27 persen. Terutama untuk industri bahan makanan dan kosmetika. Namun, fluktuasi harga masih menjadi kendala yang perlu diperhatikan karena mutu kakao rakyat belum memenuhi standar internasional.
Sedangkan harga merupakan insentif penting bagi usaha tani kakao. Hal ini berkaitan pengolahan hasil yang belum baik. Di sisi lain, akan menentukan mutu produk akhir kakao karena dalam proses ini terjadi pembentukan calon citarasa khas kakao. Biji kakao yang tidak diolah dengan baik, tidak dikehendaki pasar atau harganya rendah.
Sementara ini, teknologi pascapanen sudah dikuasai petani. Namun, keinginan meningkatkan mutu kakao masih kurang.
Secara nasional, peningkatan produksi kambing dalam beberapa waktu terakhir senilai 4,4 persen/tahun. Angka ini menunjukkan permintaan pasar cukup tinggi. Dengan meningkatnya permintaan pasar akan daging kambing tersebut, peluang pengembangan usaha ternak kambing, di samping sapi potong, masih terbuka lebar.
Usaha tani terpadu berpeluang dikembangkan di daerah sentra kakao. Salah satu di antaranya mengintegrasikan usaha tani kakao dengan ternak kambing. Sebab, limbah kulit kakao dan hijauan tanaman pelindung (gamal dan lamtoro) potensial sebagai pakan ternak kambing. Di samping itu, pengelolaan sumber daya lahan melalui pemanfaatan limbah tanaman kotoran ternak dapat dikembalikan lagi berupa kompos. Kondisi ini lebih efisien jika dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Limbah kulit kakao selalu tersedia mengingat buah kakao pada perkebunan rakyat dapat dipanen sepanjang tahun. Sementara itu, interval dan cara pemotongan yang benar dari hijauan tanaman pelindung perkebunan (gamal dan lamtoro) juga menjadi bahan pakan yang selalu tersedia.
Kandungan nutrisi pada bahan pakan tersebut dapat dikatakan sebagai bahan pakan berkualitas tinggi. Di mana kandungan protein kasar kulit buah kakao berkisar 10 persen. Sedangkan untuk tanaman hijau dari gamal dan lamtoro lebih dari 20 persen.
Melalui penerapan teknologi budi daya kakao secara baik dan benar akan meningkatkan produktivitas hingga melebihi 60 persen.
Peningkatan taraf hidup petani terutama dengan membaiknya harga kakao. Petani yang kooperatif dapat meningkatkan penghasilan per bulan hingga hampir empat kali lipat dibandingkan petani yang nonkooperator.
Selain itu, kegiatan teknologi budi daya kakao yang terintegrasi dengan pemeliharaan ternak kambing memberikan keuntungan ganda. Keuntungan ganda tidak hanya dari tambahan pendapatan yang lebih dari Rp1 juta pada skala pemilikan tiga ekor induk kambing. Penerapan pengendalian hama terpadu (PHT), dapat menghemat hingga 30 persen dan tidak lagi menggunakan pestisida dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
BAHAN DAN KOMPOSISI RANSUM
  • Kulit buah kakao kering 20-40 %
  • Dedak 24 % (dapat diganti dengan bahan lain)
  • Garam 5 %
  • Mineral (biguten) 3 %
  • Pupuk Urea 3 %
  • Molasses (dapat diganti dengan bahan-bahan yang tersedia di lokasi)

CARA PEMBUATAN
Kulit buah kakao kering digiling menggunakan mesin pencacah, kemudian dicampur dengan semua abahan-bahan hingga membentuk adonan. Adonan tersebut kemudian dipress dengan alat pengepress dengan ukuran 1–2 kg, tergantung kesukaan petani.
Limbah kulit buah kakao ini memiliki peranan yang cukup penting dan berpotensi dalam penyediaan pakan ternak ruminansia khususnya kambing, terutama pada musim kemarau. Pada musim kemarau rumput-rumputan terganggu pertumbuhannya, sehingga pakan hijauan yang tersdia kurang dan kualitasnya daerah. Akibat yang timbul adalah kekurangan pakan hijauan, mengingat ketersediaan hijauan pakan yang terbatas, maka langkah strategis yang dapat diambil adalah memanfaatkan limbah kulit kakao untuk paka ternak
Salah satu bentuk pemanfaatan limbah agro industri dan bahan pakan non kompetitif namun berkulitas tinggi adalah pemanfaatan kulit buah kakao. Sejalan dengan berkembangnya produksi kakao di Indonesia maka sejak tahun 1990 telah ditemukan nilai tambah (Value Added) dari produk buak kakao.
KANDUNGAN GIZI
Kulit buah kakao merupakan hasil samping dari pemrosesan biji coklat dan merupakan salah satu limbah dari hasil panen yang sangat potensial untuk dijadikan salah satu pakan ternak. Kulit buah kakao dapat menggantikan sumber-sumber energi dalam ransom tanpa mempengaruhi kondisi ternak (Smith dan Adegbola, 1982).
Kulit buah kakao merupakan unsure pokok yang menjadi system pokok pakan ternak (Roesmanto, 1991). Adapun kandungan gizi kulit buak kakao dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Gizi Kulit Buah Kakao
Komponen
1
2
3
Bahan kering
• Protein kasar
• Lemak
• Serat kasar
• Abu
• BETN
• Kalsium
• Pospor
84,00 – 90,00
6,00 – 10,00
0,50 – 1,50
19,00 – 28,00
10,00 – 13,80
50,00 – 55,60
-
-
91,33
6,00
0,90
40,33
14,80
34,26
-
-
90,40
6,00
0,90
31,50
16,40
-
0,67
0,10

Keterangan :
1. Smith dan Adegbola (1982)
2. Amirroenas (1990)
3. Roesmanto (1991)


Kulit buah kakao mengandung alkaloid theobromin (3,7 – dimethylxantine) yang merupakan factor pembatas pada pemakain limbah kakao sebagai pakan ternak. Kandungan theobromin dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Kandungan Theobromin pada Bagian-Bagian Buah Kakao
Bagian Buah Kakao
Kandungan theobromin (%)
- Kulit buah
- Kulit biji
- Biji
0,17 – 0,20
1,80 – 2,10
1,90 – 2,0
Sumber : Wong, dkk (1988)
Dari buah kakao yang sering dimanfaatkan adalah biji kakao, dan apabila pengolahannya kurang baik maka harganyapun akan rendah, dengan memanfaatkam limbah kuli buah kakao disamping dapat mengurangi limbah, petani dapat meraih keuntungan yang lebih besar.

Sumber : http://onlinebuku.com/2009/01/06/pemanfaatan-limbah-kulit-buah-kakao/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar